PERJALANAN PANJANG RASAU JAYA

Minggu, 2 Agustus 2015
Assalamualaikum, halo Ma Eni? Kami diminta ke Rasau? Mobil kami kan dipake ama Ma Eni ama Om. Dan yang ikut semua kan udah pas tu. (sambil dengar penjelasan dari ma eni di telpon....), hm.....oke lah, dan kami sarapan di rumah ma eni ya. Soalnya kami sekarang aja lom pada siap ni. si Papi masih bakar tunggul pohon dan sampah. (dengerin lagi balasan dari ma eni....) Oke ma eni!

Inilah telpon pagi hari dari Ma Eni, tanteku yang awalnya ke Rasau hanya bareng suami, dan kedua anaknya. Trus karena berhubung Ma eni dan Om memutuskan pake si Ijo kami, jadilah ada 3 krucil (sepupu kami yangkecil) dan Ma Anti ikut juga. Nah, pas hari H nya, 1 jam sebelum berangkat, kaminya diminta pergi. Jadilah rencana hari Minggu rapiin halaman rumah, diganti jadi nge trip ke Rasau. Tapi, oke juga, karena aku baru sekali ke Rasau jaman SD dulu, itupun dah lupa. Makanya, kami pun segera bersiap untuk ke Rasau. 
Papi dan si Ijo (di depan rumah Ma eni)
Berpose dulu sebelum berangkat di ruang keluarga Ma eni
Rasau Jaya merupakan salah satu bagian dari Kabupaten Kubu Raya. Kalo dari rumahku, memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Jalan ke Rasau ini, mulai dari simpang bandara Supadio, kita ambil lurus ke kiri trus belok ke kanan (ada papan penunjuk arah). Nah lurus aja terus, dan kita memasuki wilayah Kuala Dua namanya. Kuala Dua ini ternyata rame dan jalanan juga halus. Pertokoan serta syawalan komplit. Wajar, kalo disini harga tanah dan perumahan sudah semakin naik harganya. 
Lanjut kita, saat memasuki pasar, kita belok ke kanan, ada petunjuk arah juga. Dan lurus terus karena kita akan menuju ke Rasau Jaya. Jalanan disini sudah mulai bervariasi alias ada yang rata (diaspal), ada yang dibeton, ada juga yang tergenang air, plus pastinya ada yang berlubang lubang kecil maupun besar. Enaknya kami bawa si Ijo ini, mudah melewati jalanan berlubang dan lumayan hemat BBM. Perjalanan pun kami tempuh dengan penuh candaan, dan gak ada yang mabuk perjalanan. Aku menikmati memotret dan mengamati sepanjang perjalanan kami. Banyak hal baru dan menarik yang kutemukan disini selama Street Photography. Apa saja itu? Lets check it out! 
Tumbuhan sedang meranggas, di sepanjang jalan tinggal ranting dan batang pohon. Kalbar memang lagi dilanda musim kemarau panjang. Selama bulan puasa musim kemarau, trus lebaran hujan dan panas.  Beberapa hari yang lalu sebelum kami pergi, Pontianak lagi sering hujan , namun pagi ini cerah dan langit biru indah. 
Ada TPS akhir disini. Lumayan besar areanya. Kebayang ya, tiap hari ditumpuk terus menerus, kapan habisnya. Ini merupakan PR besar bagi dinas Kebersihan. 
Sepanjang jalan mudah kita jumpai lapak yang berisi nanas. Memang di Rasau ini terkenal akan penghasil buah nanas. si Papi bercerita, pas aku melihat pabrik, di sisi kiri jalan, itu merupakan pabrik nanas, namun tidak tau apakah dioperasikana tau tidak. 
Selamat datang di Rasau Jaya Umum , dari sini perjalanan masih 30 menit lagi. 

Besar juga dapat ikan gabusnya. Tak jarang memang, para pemancing baik yang amatir ataupun pro, memilih Rasau sebagai spot mancing mereka. Biasanya mereka dengan sampan ataupun menyewa speed boat untuk memancing di sungai 

Nursery nya tanaman sawit alias tempat pembibitan. Banyak digeluti orang karena merupakan bisnis yang menguntungkan 

Kalo yang ini, gak tau lagi ngapain. Sepertinya menyiapkan polibag untuk penyemaian. 

Rupanya lapangan tembak untuk SPN Pontianak disini ya.

Sungai berair coklat karena dominan disini merupakan lahan gambut yang cocok untuk tanaman nanas.

Ladang kacang tanah dan sayur. 

Akhirnya kami bertemu Hesi dan Putri. Cepet juga mereka bawa motor. 

Jalanan penuh dengan kerikil, pasir dan berdebu. 

Selain Nanas, Jagung merupakan hasil pertanian yang juga produk unggulan dari Rasau. 

Baliho PemDa Kubu Raya menyambut MTQ ke IV tingkat Kabupaten Kubu Raya

Lokasi di adakannnya MTQ

Akhirnya tiba juga di pasar Rasau Jaya, sebentar lagi sampai

Ada Pura untuk ibadah umat Hindu sini. 

Expresi senang karena sebentar lagi kami bisa melepas lelah

Tampak jejeran kapal warna warni di dermaga kecil. Tampak di kejauhan bukit Ambawang.
Tak jarang warga menyandarkan kapal motor air milik mereka di belakang rumah karena sungai tepat di belakang rumah mereka. Pemandangan dan komposisi indah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar