MONKEY of PURA ULUWATU


Pura ini terletak di desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung. Berada di ujung barat daya pulau Bali menawarkan keindahan nya yang sangat eksotik. Perpaduan sempurna antara laut, langit, tebing ombak, pepohonan merupakan Maha karya Tuhan Semesta. 
Tempat favoritku jika ke Bali. Meskipun banyak monyet dan berseliweran mendekati. Entah ingin menyapa atau menginginkan sesuatu yang menarik baginya. Seperti yang kualami sewaktu mengunjungi Pura Uluwatu kali ini. Terjadi setelah puas memotret serta mengintari pura ini. Akupun duduk di tepian sambil bercakap cakap dnegan Eka. Kami menunggu Heni dan keluarga kecilnya menonton pertunjukkan kecak di ujung tebing. Tak sadar, sudah ada monyet yang besar , seperti boneka koala ukuran jumbo, berada tepat disampingku. Eka memintaku untuk tetap diam dan santai, agar tidak membuat monyet terkejut lalu menerpaku. Tapi kali ini, ide eka tidak begitu mujur. Si Monyet justru bertambah dekat dan tiba-tiba menarik kuat sendal yang kupakai. Adegan tarik menarik pun terjadi. Eka terpaksa mengusir monyet tersebut dan akupun lari. Deg degan sudah pasti. Kebayang jika di cakarnya, entah gimana jadinya aku. Si monyet itupun pergi, tapi dia pasti tidak ingin pulang dengan tangan hampa ke dalam hutan. Maka dia pun segera mengambil kacamata pria di sebrangku yang tak kalah kagetnya denganku tadi. 

Monyet, selalu ada cara mengakalinya. Untuk mendapatkan kembali apapun yang diambil monyet, kita harus memiliki sesuatu yang disenanginya seperti minuman dan makanan. Barter pun terjadi, monyet deal dan kacamata kembali. 
Senja semakin tenggelam, larut bersama kobaran api pertunjukkan Kecak. Tari Kecak di Uluwatu ini   tidak pernah dilanda hujan. Tahun lalu aku kesini, mendung begitu gelap sebelum pertunjukkan. Tiba-tiba angin kencang bertiup keras, hujan turun tapi tidak lama kemudian, entah bagaimana sang angin meniupnya, langit kembali cerah. Pertunjukkan dimulai bersamaan dengan jingganya senja. Cerita Eka memang tidak salah. Setibanya kami dirumah, hujan lebat rupanya turun di wilayah Kuta Utara cukup lama. 

Kembali ke cerita monyet semakin menarik untuk di bahas. Monyet disini jumlahnya ratusan, tinggal di antara pepohononan di sekitar pura. Mereka tidak tau mencari makan dimana sehingga pengunjung menjadi sasarannya. Padahal petugas di Pura Uluwatu telah memberikan mereka makanan secara rutin. Tapi memang monyet makhluk yang usil. Tetap saja hal itu tidak membuatnya puas. Maka tak jarang setiap petugas ataupun guide mengingatkan kita untuk selalu menyimpan air minum, makanan kedalam tas. Itu hal pertama yang palig mengundang hasrat monyet melirik kita. Lalu kita sebaiknya melepas pernak pernik di tas ataupun di badan kita. Apalagi sesuatu yang ngeblink, monyet paling suka. Dan sendal pun yang dipakai meski tidak dilepas menjadi incaran. Mereka senang mengunyah kacamata, karena kadang ada yang lembut seperti karet di ujung gagangnya.   

Dulu, kata Eka, ada seorang pengunjung wanita, memakai kalung puluhan gram, dirampas si monyet dan kalungnya tidak kembali meski petugasnya sudah berusaha mencari. Karena jika itu rejeki tak jarang masih bisa ditemukan lagi. Kejadian itu menjadi sejarah termahal kehilangan dari seorang pengunjung. Mungkin ada kisah lainnya seperti kacamata yang harganya belasan juta atau barang berharga lain yang lain, namun tidak tersampaikan ceritanya. 

Tak terasa 1 jam sudah berlalu, selesainya tari Kecak yang dramatis dan mistis menjadi penutup perjalanan malam itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar