ULUN DANU BERATAN

Bunyi gendang beradu dalam melodi yang indah terdengar dari kejauhan. Aku segera turun dari mobil dan menuju ke loket. Tak perlu menunggu lama, aku pun segera melangkah melintasi pepohonan tinggi setinggi tempat yang kudatangi ini. Inilah Pura Ulun Danu Beratan. Pura terbesar di Bali setelah Pura Besakih. Berada di tepian danau Beratan yang terletak di dataran tinggi Bedugul, sekitar 1.239 mdpl. Tinggi, sejuk, asri dan tumbuhan yang indah pun tumbuh subur disini. 
Aku kembali fokus mencari asal irama yang etnik itu. Umbul-umbul serta para wanita yang anggun dengan balutan kebaya Bali terlihat menuju ke arah yang sama denganku. Mereka membawa anyaman kotak di kepala atau di tangannya. Langkahnya seperti terburu-buru karena tak ingin melewatkan upacara sakral agama. 
Gendang dan beberapa jenis alat musik tradisional lainnya dimainkan semakin keras oleh para pria berseragam hitam. Diantara mereka dengan jumlah yang hampir sama, Pria menggunakan seragam putih. Mereka sama-sama menggunakan udeng (sebutan penutup kepala dari kain untuk Bali)yang sesuai dengan seragam mereka. Layaknya Yin dan Yang, menyatu dan sebuah harmoni bergerak secara perlahan menuju ke suatu tempat. Sesajen serta umbul umbul yang menjulang tinggi lambat laun hilang dari pandangan seiring dengan bunyi tetabuhan yang sayup terdengar. Hal yang indah telah kusaksikan. Takjub dengan Hindu dan Bali yang menyatu begitu kental menjadi budaya yang selalu membuat orang yang melihatnya terkesima. 
Angin bertiup lembut membuatku menoleh kearah danau yang tenang. Danau yang selalu membuatku berkali-kali ingin menemuinya, menikmati keanggunannya. Tepian danau dekat pura ada perubahan. 1 tahun yang lalu belum berdiri beton setinggi betis ini. Namun Pura tetaplah sama. Indah dan bersahaja. 

Tak rela rasanya jika mengabadikan diri di depan sini. Meski hanya satu dua foto saja. Di sebrangku, mungkin puluhan kali para pengunjung itu berfoto. Sudut tidak berubah hanya pose yang berganti setiap jepretan. Selfie setiap orang memang berbeda. 
Rasanya ingin terus kunikmati indahnya alam ini. Namun hal itu tidak bisa berlangsung lama, karena  rintik hujan mulai menyapa wajah. Kabut putih mulai berarak menyelimuti Bedugul dan bunga batu  birupun menjadi penutup perjalananku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar