MALAYSIA & SINGAPORE ON JANUARY 19-20, 2013 [MAMATRIP]

Bus meliuk meliuk di jalanan, membuatku terbangun karena merasa tidak nyaman. Bus mendaki melewati jalan pegunungan Genting. Mama masih tertidur pulas. Aku merasa semakin kedinginan.  Cardigan dan baju wol ku ini tidak cukup membuatku hangat. Kulihat sudah pk 03.00. Aku tidak bisa tidur lagi. Hanya bisa menunggu hingga bus tiba di terminal Genting Highland beberapa menit kemudian. 

Pemberhentian bis di depan First World Hotel. Aku dan Mama menitipkan tas disini dnegan membayar beberapa ringgit.  Hotel ini bersih dan luas sekali. Nyaman dan banyak kursi. Hotel ini diklaim sebagai hotel pertama di dunia dengan jumlah kamar lebih dari 6000 kamar. Info jelasnya bisa cek di wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Genting_Highlands . 


Berhubung kami tidak mengantuk, kami pun mengelilingi wahana indoor. Sepi sekali, karena wahana baru dibuka sekitar pk 09.00. Tapi tempat makan seperti Marrry Brown dan KFC tetap buka. Jadi gak bakalan kelaparan. Mama senang disini karena udaranya dingin dan menurutku memang sangat dingin seperti Lembang saat dini hari. Kami kembali ke Lobby hotel untuk mencari Musholla saat jam sudah menujukkan pukul 5.15, sebentar lagi waktu subuh. 

Mushollanya lumayan besar dan bersih. Kamar kecil dan wastafel banyak serta bersih. Musholla pria dan wanita dibenakan sehingga kita lebih leluasa dan nyaman beribadah. Kemudian, kami kembali mengintari sekitaran hotel.  

Hotel ini memiliki Kasino yang besar dan terkenal di kawasan Asia, tak heran jika banyak etnis Cina yang mengadu nasib disini, karena setauku Melayu dan Islam tidak diperkenankan berjudi disini. Pemerintah Malaysia yang menetapkan aturan demikian. Jadi jangan heran jika kita melihat banyak yang sudah tua ataupun muda yang keluar masuk Kasino, dengan kaos oblong dan sepatu kets, style mereka. Tersenyum senang ataupun tertunduk lesu karena kalah.


 Kami mengambil foto di depan hotel dan tampak dari kejauhan fajar mulai menyingsing. Perut pun mulai terasa lapar. Kami memasuki kembali arena Indoor Park untuk sarapan. Milo hangat dan teh tarik panas, telur rebus rempah dan 2 piring Mie goreng pun menjadi santapan di pagi ini. Membuat kami kembali bertenaga dan siap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Kuala Lumpur. Kenapa sebentar? Karena kami tidak tertarik dnegan permainan wahananya. Dan sekedar ingin tau saja Genting Highland itu seperti apa.


Kami turun menuju terminal dengan menggunakan Skyway saat pk 09.00. Subhanallah, keren sekali, Mama senang sekali. Dan menurut mama ini tempat yang mengesankannya. Syukurlah Mama sudah pernah kesini karena skrg Genting Highland di rombak habis habisan dan digantikan dengan Century Fow World Genting yang akan di buka di tahun 2017. Infonya bisa dilihat disini http://blog.malaysia-asia.my/2015/11/20th-century-fox-world-genting.html . 

Cable Car tiba 20 menit kemudian, kami pun sempat kebingunan mencari dimana loket tiket berada. Tanya sana sini, akhirnya ketemu juga. Kami membeli tiket bus jurusan Puduraya. 1,5 jam perjalanna hingga tiba di sana. 

Seribanya di Puduraya, ini teminal bis yang cukup membingunkan. Banyak Calo yang menawarkan tiket bis. Kami pun tidak mengerti hanya mengikuti petunjuk dimana loket penjualan tiket berada. salah satu Wanita, dia mengaku orang Lombok dan kamipun percaya. dia menjual tiket jurusan Puduraya-Johor Bahru. Kami pun membeli dna aku lupa berapa harga yang ditawarkannya. Tiket sudah ditangan dan kami merasa lega. Tapi setelah membeli tiket itu, aku heran banyak terdapat papan peringatan yang betuliskan Hati-Hati Ulat tiket. Apa itu? Ternyata Calo. Perasaanku sudah mulai tidak nyaman tapi kutepis. Masa sih wanita itu membohongi kami yang sama-sama dari satu negara. Jadi kami tidak memikirkan hal itu, 

Kami kehilangan arah. Kami tidak tau dimana hotel kami berada. Banyak yang bilang dekat, ada yang bilang jauh. Tidak jelas. Apalagi taksi disini banyak pembohong dan sudah terkenal memang taksi di Malaysia tidak menggunakan argometer. Jadi kita bisa ditipunya dengan cara memutar mutarkan kita. Aku tidak mau ambil resiko, hanya mengikuti petunjuk peta, kami berjalan hingga akhirnya tiba di hotel. Cukup jauh, yah...benar, Jauh, kami tidak terbiasa jalan sejauh ini. Kesalahanku, kasian Mama. Tapi akupun belajar banyak dari itu. 

Kami sudah terlanjur lelah saat tiba di hotel. Kota ini membuatku pusing. Tidak ramah kata Mama. Wajar karena kami tiba di Puduraya. Dan memang semenjak itu, beberapa kali ke KL, aku hanya 2 kali melewati terminal ini lagi. selebihnya aku lebih memilih ke TBS atau KL sentral yang memang tidak ada Ulat Tiket dan bagian informasi serta petugasnya ramah.  


Hotel Senral Pudu ini bersih dan rapi serta lengkap. Setelah mandi, kami pun terlelap hingga jam 2 siang. Waktu kami hanya beberapa jam lagi untuk bisa mengunjungi KL. Aku tidak mau ambil resiko, aku yang semula mau naik Hop On Hop Off, memilih taksi sewa agar kami tidak bingung dan bisa mengujungi beberapa tempat dalam waktu singat. Kami terpaksa membayar mahal untuk trip singkat ini. selama 3 jam. Aku lelah, karena trip tidak semudah yang kubayangkan. Ini negara orang Ini pengalaman baru. I dont want take a risk. 

Perjalanan kami dimulai dari Petronas, lalu KL Tower, Dataran Merdeka serta bangunan sejarah disekitarnya, Tugu peringatan Negara Malaysia, Istana Negara Malaysia, Muzeum Negara, Masjid Negara, Kuil, dan terakhir di Berjaya Times Square. Dan di destinasi terakhir ini, kami suka dengan namanya tangga piano, kebetulan sebelum pergi ke KL, mama menonton di TV tentang tangga ini. Kesampaian deh. Saat kita melangkah di tust piano bunyinya terdengar sama. Ini Kece. Kami berkeliling, makan dan akhirnya memberi bekal roti untuk perjalanan nanti malam menuju ke JB. 












Kami kembali ke hotel dan langsung bergegas packing. Aku meminta bagian resepsionis untuk memberikan bekal roti yang mereka janjikan saat aku Check in tadi karena kami tidak sarapan disini. Inilah pembelajaran bagiku, tidak semudah itu mewujudkan itinerary, hanya pengalaman dan pembelajaran yang bisa membuat trip menjadi berjalan lancar  dan sesuai dengan keinginan. Pengalamanku ini meenjadikanku bisa membuat trip  sesuai keinginan. 
Sebelum berpisah dengan KL, kulihat dari jauh KL Tower dari jendela kamar kami. Suatu saat dalam batinku, aku akan kembali kesini. Bukan sekali tapi beberapa kali dan pada saat itulah akan ku explore KL dan Malaysia ini (alhamdulillah terkabul hehehe). 

Disini mental kami terutama aku diuji. Kami ke Puduraya dengan menggunakan bis, karena menurut petugas hotel sebaiknya naik bisa dari sebrang hotel hanya membayar 1 ringgit, dibanding taksi 30 Ringgit. Alhamdulillah, tantangan pertama terlewati. Tiba di Pudurafya, kami naik ke lantai 2 tempat dimana loket berada. Menurut petunjuk, kami menunggu di gate yang telah ditentukan. Bis kami jam 9 malam. Kami menunggu sambil ngobrol dan memakan roti yang kami beli tadi. Firasatku kembali tidak nyaman. Bis yang kami tunggu tidak datang-datang. Sudah pk 21.30 dan ada beberapa penumpang yang juga kebingunan. Puduraya semakin sepi. Aku mengingat kembali perkataan supir taksi yang kami sewa tadi sore, tentang Ulat Tiket yang banyak berkeliaran di Puduraya. Dia pernah tertipu meski dia orang asli KL. Apalagi kami. Mulai deg degan namun Kami tetap menunggu hingga akhirnya pk 22.00 kami didatangi pria yang menyuruh kami untuk menunggu di tepi jalan. Ternyata disana banyak yang bernasib sama seperti kami. Ada India, ada warga KL, Johor Bahru, Cina, dan Kami dari Indonesia. Sedih, kesal campur aduk. Kami menunggu lama sekali tanpa kepastian, benar benar PHP. Aku berkali kali mendatangi pria itu, bahwa kami harus segera ke Singapore, karena kami mngejar pesawat. bagaimanapun caranya kami harus kesana. 

Tengah malam, satu persatu penumpang terpisah, naik bis yang berbeda dan kami adalah penumpang terakhir. Bis nya sudah jelek, jauh dari yang dipampang di loket Puduraya. Tapi tidak ada pilihan, karena 20 Januari siang penerbangan kami dari singapore ke Pontianak. Kami naik dan aku tidak bisa tidur, sungguh. aku harus berjaga. Mama kuminta tidur. Aku was was dan cemas. Dimana kami akan turun sedangkan ini pasti trun di tempat berbeda bukan di JB. 4 jam kemudian, kami tiba di terminal Larkin. Tempat apa ini, aku bingung sekali. Kami minta diturunkan oleh supir di JB sentral tapi supir berkata kami tidak berhenti disana. Tapi aku mendesak untuk turun kesana, karena aku masih mengingat dan minimal bisa jalan kaki jika kami diturunkan di dekat JB CIQ. Kami lalu diturunkan ke tempat antah berantah. Ngeri sekalai. Kami berdua, wanita, jalan di kota yang kami tidak tau menahu kecuali dimana JB sentral berada. Tidak ada yang ditanya. Udara dingin sepi, gelap, cukup lengkap sudah penderitaan. Tapi aku tidak bisa mengeluh, karena aku harus bertangung jawab terhadap Mamaku.

Kami melewati beberapa blok, rumah warga, pertokoan, kantor, dan entah apalagi, aku tidak ingat. Tanpa koneksi internet, dan peta, hanya berbekal insting dan arahan dari beberapa orang yang kutemui dijalan. Hari masih gelap. Aku tidak boleh berpikir apa apa selain fokus dengan tujuan dan berdoa terus kepada Allah.  Pengalaman yang sangat mendebarkan, belum pernah kualami sebelumnya. Ini Gila, gila sekali pikirku, tapi itulah yang terjadi, setelah hampir sejam berputar dan berjalan, kami menemukan JB CIQ. Allahu Akbar, Alhamdulillah. Hal yang tidak pernah kulupakan seumur hidup. 

Kami menunaikan sholat subuh dan kami pun bersih bersih di kamar kecil dan wastafel di dekat Musholla. Pikiranku kembali tenang. Jam 06.30 kami pun meninggalan musholla menuju ke JB CIQ. Selamat tinggal Malaysia. 

Tiba di Kranji pk 08.00, aku menukarkan STP dan mengambil deposit. Aku membeli Ez link dan men Top up nya @ 10$G. Kami akan ke Bandara dengan MRT. Namun sebelum ke Bandara, tidak mungkin jika kami tidak singgah di Ikon Singapore, Merlion. Kami turun di Rafless Stn. Berjalan menuju ke Boat Quay sesuai papan arah. Kami bertanya dengan orang sekitar yang sedang sibuk menuju ke kantornya. Berpakaian rapi layaknya para executive, mereka melangkah cepat. Salah satu dari mereka mengarahkan kami untuk menyusuri Boat Quay. Sesuai petunjuknya dan sempat kebingungan juga karena jalan tepian sungai ini terputus dan kami harus masih naik lagi keatas lalu turun ke bawah. Bagi yang baru pertama ke Merlion pastilah bingung jika kalian naik dengan MRT. 

Perjuangan kami terbayarkan. Pesona keindahan Boat Quay dan patung patung di tepiannyayang menarik untuk diabadikan, kami pun akhirnya bisa ke Merlion. Alhamdulillah....



















Senang sudah membawa mama mengunjungi kedua ikon negara Malaysia dan Singapore. Mama terlihat senang. Aku senang juga meskipun dengan beban di punggungku dan tas selempang di kanan kiriku. Ini backpacker beneran. Perjalanan yang gokil abis. Bareng Mama lagi. Lain kali Mama kesini, akan kubaya belusukan di Singapore dengan puas dan nyaman. Karena aku sudah tau kota ini, sudah tau dimana makanan halal, tau jalan jalannya, ngerti naik bis, MRT dan taksinya. Suatu hari, pasti ma....

Selamat tinggal Singapore, selamat Tinggal Malaysia. 

(aku kembali lagi ke negara ini dengan beberapa destinasi baru 6 bulan kemudian tepatnya saat Ultahku 26 Juni 2013 pastinya dengan cerita dan tantangan berbeda lainnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar