KEHIDUPAN DI KAKAP

Sebagian besar orang Pontianak pasti pernah ke Kakap, atau minimal pernah tau daerah Kakap. Yup, benar sekali. Kakap dikenal dengan tempat acara Robo-Robo'. Trus, restoran yang menyajikan hidangan khas laut yang masih segar, hasil tangkapan dari laut, ikan, dan Pek Kong nya. Itulah Kakap dengan berbagai ketenarannya.


Kali ini, saat lagi parahnya kabut asap di Kalbar, V3 lagi hunting foto sekaligus pengen tau gimana suasana di Kakap, soalnya udah lama banget gak kesana semenjak beberapa tahun lalu. Kakap masih seperti dulu. Dengan jembatan bintang tujuh yang berada tepat di sebrang Pek Kong. Hiruk pikuk nelayan bersliweran dengah motor air serta sampan. Bunyi klotok motor menambah kekhasan daerah ini.

Biasanya dari ujung dermaga terlihat jelas pulau tanjung saleh di sebrang sana. Namun kabut asap begtu pekat hingga hanya tampak putih awan menyatu dengan sekitarnya membuat semua menjadi tanpa batas. Jarak pandang menjadi sangat terbatas, meski saat itu siang bolong, hanya hawa mentari yang panas menyegat terasa dikulit, namun cahaya mentari tak mampu menyibakkan kabut asap untuk memperlihatkan kembali sebrang pulau.

Dari arah Pek Kong, tampak seseorang yang mendorong gerobak yang dipenuhi balok es menuju ke salah satu bangunan di tepi sungai. Aku memperhatikan sekitar, dan ada suatu yang menarik. Sebuah benda feng sui hitam putih yang diletakkan didepan rumah warga. Sebuah simbol yang biasanya dipercayai untuk tolak bala orang tionghoa. Kulanjutkan kembali langkah menuju bangunan yang didepannya terdapat beberapa tumpukan karung berwarna biru.  Itu tempat pengasinan ikan. Ini menarik karena ini kali pertama aku melihat langsung proses pengawetan ikan dengan cara pengasinan.
PENGASINAN IKAN
Ikan asin adalah bahan makanan yang tebuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini, daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. selain itu daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infestasi serangga, ulat lalat dan beberapa jasad renik perusak lainnya (wikipedia).

Disini tempat ini beraneka ragam ikan laut yang biasa diasinkan. Ikan-ikan ini dikumpulkan dalam suatu wadah dan lalu ditaburi dengan garam. Ikan-ikan yang besar biasanya dibelah atau dipotong lebih dulu, agar garam mudah meresap ke dalam daging.

Ingat dengan proses osmosis? Yang mana perpindahan dari bagian yang encer ke bagian yang lebih pekat. Untuk ini prosesnya sama, yakni garam yang pekat akan meresap ke daging ikan, berlangsung terus hingga seimbang antara konsentrasi garam di luar dan di dalam daging. Kadar garam yang tinggi menghambat pertumbuhan bakteri dalam daging ikan. Setelah itu, ikan-ikan ini akan dijemur, untuk meningkatkan  keawetannya.


Setelah memotret serta berbincang bincang dengan para pekerja di pengasinan ikan, perjalanan hunting kembali di lanjutkan. Kulihat ada bapak yang sedang merajut kembali jala ikannya. Kata beliau biasanya memakan waktu 1-2 minggu tergantung seberapa parah jaring yang robek. Mereka hanyalah pekerja. Mereka masih menjadi anak buah, belum memiliki modal sebesar bos mereka. Kapan ya kami bisa memiliki usaha sendiri, tidak terus menerus menjadi anak buah, curhat bapak itu kepadaku. Aku hanya bisa tersenyum dan berdoa agar dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tak jauh dari situ, ada bapak yang sedang menjemur udang ebi. Panas terik tidak menyurutkan semangat beliau. Aku hanya bisa memotret dan menyapa beliau, karena tampaknya sang bapak lagi fokus bekerja. Siang itu sangatlah panas, jadi saat waktu zuhur tiba akupun kembali kerumah dengan pengalaman baruku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar