PULAU KABUNG DAN PANTAI GOSONG


Kondisi laut yang cukup tenang di bulan Maret membuat kami berdua punya ide ngetrip ke pulau. Sudah lama tidak snorkeling. Tujuan kami yang dekat saja, yakni pulau Kabung. Pulau ini pernah kami datangi sebelumnya, Mei 2012. Waktu itu kami menginap di rumah Uzi, temannya Edi. Lengkapnya bisa dibaca disini. Trip kali ini, ada sepupuku yang mau ikut, namanya Dea. Dia belum pernah ke pulau. Saking senangnya katanya dia hampir gak tidur semalaman ngebayangin serunya ke pulau.

Perjalanan kami dimulai sabtu jam 04.00. Kami lanjut menjemput Dea, dan sholat subuh di masjid. Kami membawa bekal dan makan di mobil karena kapal bertolak dari teluk suak ke pulau jam 7.30. Saat jam 6.30 kami sudah di telpon Pak Ukas. Beliau pemilik homestay yang akan kami datangi. Beliau berpesan untuk naik motor air yang singgah ke dermaga dekat tempatnya. Mobil pun semakin melaju kencang karena kami khawatir tertinggal kapal ataupun membuat penumpang lain menunggu.

Syukurlah tepat 7.30 kami tiba. Dan ternyata motor air belum tiba. Tapi sudah terlihat menuju ke arah dermaga. Kami sempatkan beristirahat sejenak dan menghabiskan bekal kami. Kami membawa persediaan makanan mengingat dulu saat di pulau, susah sekali menemukam warung yang menjual makanan atau sembako.

Motor air berlabuh, kemudian penumpang dan barang pun berganti dengan yang akan menuju ke pulau. Kami naik dan sengaja aku duduk di dalam kapal. Menghindari panas dan pastinya mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan badan agar bisa beristirahat. Sedangkan papi duduk diluar dengan carriernya.

Perjalanan ditempuh selama 1 jam. Air laut tenang. Dan saat tiba di dermaga, kita tidak begitu kesulitan untuk naik karena cukup pasang. Aku melihat ada pria yang mendorong gerobak berisi es batu. Itu ternyata pak Ukas. Dan beliau pun mengarahkan kami untuk mengikutinya.

Sisi barat pulau ini ternyata ada sekolah, masjid dan banyak warung. Termasuk di rumah Pak Ukas juga memiliki warung lengkap dengan cemilan dan sembako. Tau begini gak perlu bawa pritilan. Bawa uang aja. Tapi yang namanya papi, tetep masak masak dan camping. Karena memang hobinya. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di teras pak Ukas yang berada di atas air. Karena saat itu ada beberapa yang juga menginap disini, selain itu biar seru aja dan Dea belum pernah tidur di tenda.


Air bersih disini tersedia melimpah. Urusan MCK aman. Urusan makan, kami sudah ready bekal dari rumah. Tinggal pesan nasi sama pak Ukas. Kalo pas ada bu Ukas, kami gak perlu masak, karena udah sepaket dengan homestay. Ini sayangnya bu Ukas lagi di Pontianak. Jadi hanya ada suami beliau.

Setelah kami tiba, kami memutuskan beristirahat sampai tiba waktu zuhur. Setelah sholat dan makan siang, aku dan dea lanjut menjelajah pulau, melihat aktivitas penduduk. Diujung barat pulau ini sungguh indah. Hamparan bebatuan dan pemandangan laut tersaji apik bagai lukisan. Kami berleha leha di atas batu di bawah pohon sambil bercerita. Tak terasa hampir 1 jam kami disana. Kami memutuskan kembali lagi ke homestay. Oh ya, pulau ini terkenal dengan cengkeh dan pala di sekitar bulan Maret atau Mei. Serta musim sotong di bulan Agustus.




Pulau Kabung ini berbentuk seperti sebuah gunung.Dari jauh terlihat seperti segitiga. Pulau ini sebagian besar penduduknya berasal dari Sulawesi, Jawa, Singkawang, Sambas dan Bengkayang. Mata pencaharian utama adalah nelayan dan berkebun cengkeh serta pala. Beberapa juga ada yang menjadikan tempat tinggal mereka homestay sama seperti pak Ukas.

Listrik disini menggunakan tenaga surya. Baru beroperasi sejak Februari 2016, dengan masing masing rumah diberi jatah 300watt dan bayar iuran bulan 15rb. Warga sangat bersyukur ada listrik, karena selama ini mereka hidup dengan mesin Genset. Biayanya besar, sehingga adanya listrik sangat membantu mereka. Listrik hidup 24 jam.

Rumah disini didominasi rumah panggung, untuk menghindari hewan liar. Rumah terbuat dari kayu penibung yang sama juga digunakan untuk membuat Bagan. Kayu ini terkenal kokoh dan awet.


Snorkeling
Spot snorkeling disini yang berada dekat pantai banyak jauh berkurang. Namun kami beruntung masih menemukan anemone dan clown fish. Beberapa rombongan ikan serta kima. Pantai di pulau kabung ini pendek dan sedikit. Jadi jika ingin bermain puas di pantai, bukan di pulau ini. Pilihannya bisa ke Randayan.











Kami snorkelingan cukup lama dan jauh, sampai kami rasa sudah puas dan lapar. Akhirnya kami pulang ke homestay, mandi dan sholat. Lalu kami menyiapkan masakan untuk makan sore dan malam.




Malam itu angin berhembus pelan. Laut tenang dan langit indah. Mata kami pun mulai menutup perlahan karena lelah dengan aktivitas seharian.

Keesokan pagi....
Azan subuh, kami sholat di masjid, kemudian suamiku memasak sarapan dan kami mulai packing dan lanjut mandi. Karena kami khawatir siangnya cuaca memburuk, ombak tinggi, riskan untuk pulang. Jadi kami memilih penyebrangan pagi. Aku menyempatkan mengabadikan sunrise. Indah sekali. Keagungan Allah Swt atas alam dan isinya.




Laut pagi itu terasa tenang, hanya saat di tengah saat, ombak agak tinggi. Sama seperti saat pergi, pulang juga memakan waktu 1 jam. Setibanya di dermaga, kami menuju parkiran dan segera bertolak pulang.

Pantai Gosong
Namun saat di jalan, iseng kami singgah dulu ke pantai Gosong. Dea penasaran kaya apa pantai itu. Kami pun kesana. Pantai sama seperti biasa. Sepi. Kami bertemu dengan nelayan yang habis melaut. Sampan kecilnya biasa membawanya melaut hingga ke pulau sebrang. Beliau mengatakan jika ingin ke pulau, bisa menghubunginya. Cukup dengan sampan kayuh yang muat diisi 5 orang, kita bisa berpetualang seru. Senang, kami punya teman baru , abang nelayan.







Kami juga mencoba spot lain dari pantai ini. Di dekat bebatuan. Disini dekat dengan pemakaman muslim. Ada pepohonan teduh dan nyaman untuk bersantai di bawahnya. Kami menikmati sejenak indahnya pantai dan deburan ombak disini.



Traveling selalu menyenangkan dan memberi cerita serta pengalaman tersendiri. Meski ke tempat yang sama tapi selalu berbeda cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar