HALAL HARAM FOOD IN VIETNAM

Foto sebelum masuk ke Rumah Makan


Sepintas siang ini, entah kenapa aku jadi teringat kisahku saat perjalanan dengan tur di HCMC. Kuingat waktu itu aku mengambil tur ke ChuChi Tunnel dan Chao Dai Temple. Kisahnya, aku bertemu dengan guide yang asli Vietnam.   Mukanya dan postur badannya mirip Jojo sang Juara Asian Games 2018 Badminton alias ganteng. Tapi sayangnya dulu Jojo belum terkenal, kalo udah famous, mungkin aku akan berpura pura berfoto dan bilang kalo aku berfoto dengan Jojo. 😆


Singkat cerita, tur ini ternyata udah termasuk makan siang di dalamnya. Dan saat berhenti di sebuat rumah makan, akupun ditanya dengan si guide yang mirip Jojo tadi, mau makan apa (tanyanya pake bahasa inggris). Aku yang sedari tadi menaruh curiga dan mencium aroma yang sepertinya kukenal. Kenapa kukenal, ya karena aku pernah bekerja di salah satu Kampus yang mana kawan kawanku yang non muslim, sering makan nasi akwang, kwe cap dan yang berbahan Pork, makanya jadi tau aroma itu. Jadinya saat ditanya sama si *guide J* (aku panggil gitu aja ya), ku tanya balik, Ini makanan mengandung pork ya? Dan pastinya Lard ? Gimana reaksinya, dia menjawab , Tidak semuanya. Kamu bisa pesan nasi dan telur, trus sayur dan yang bukan mengandung Pork. Ini ada banyak pilihan di menu, katanya sambil menyodorkan daftar menu ke aku yang sedari tadi berdiri saja. No, jawabku, aku tidak bisa makan disini, karena meski kupesan yang nonPork, wadah dan media memasaknya pasti jadi satu dan mengandung Lard dan itu tetap haram bagiku. Dalam Agamaku, Halal dan Haram jelas. Jadi aku tidak bisa makan disini. 

Ternyata si guide J kecewa dan kesal. Dia balik berkata, " Selama ini, banyak orang  yang berasal dari negaramu atau seagama denganmu yang ikut tur dengan kami tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka makan saja yang penting tidak memesan babi kata mereka. Dan kenapa kamu sebegitu ekstrim. Kalo begitu, udara yang kamu hirup ini mengandung babi juga. " Nada bicara nya meninggi dan dia terlihat kesal dan marah. 

Ya, dia marah. Dia kecewa karena aku tetap tidak mau memesan makanan, dia khawatir itu akan mempengaruhi penilaian terhadap jasa turnya. Dan kusampaikan kepadanya, oke, tidak masalah dan aku tidak minta pengembalian uang untuk jatah makan siang.  Aku tunggu di halaman saja. 

Segera kuberanjak meninggalkan ruangan dan menunggu di dekat bis. Inilah negara yang minoritas muslim. Susah sekali untuk mencari makanan halal. Benar seperti yang Tanteku cerita tentang susahnya cari Halal disini. 
Setelah menunggu di halaman, aku pun memilih menunggu di Bis

Perutku berbunyi, memang aku lapar. Sedari kemaren aku hanya makan biskuit dan telur rebus. Aku belum menemukan makanan halal. Ini menjadi pembelajaran bagiku. Tapi meski keroncong, toh aku masih ada biskuit oreo dan sebotol air mineral. Aku masih bisa bertahan kok. Apalagi di rumah makan ini sudah jelas sekali terlihat bahwa pasti non Halal. Terserah apapun alasannya tentang orang lain yang tidak mempermasalahkan makanan disini. Tapi buatku, tidak ada kompromi untuk Halal dan Haram. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar